KITAINDONESIASATU.COM – Gelombang aksi protes yang melanda Iran semakin mematikan. Hingga Jumat (9/1/2026), laporan terbaru dari lembaga hak asasi manusia menyebutkan sedikitnya 45 orang tewas dalam bentrokan berdarah antara massa demonstran dan aparat keamanan. Kerusuhan yang dipicu oleh isu hak sipil dan tekanan ekonomi ini telah menyebar ke lebih dari 20 kota besar, termasuk Teheran dan Tabriz.
Menghadapi situasi yang kian tak terkendali, pemerintah Iran mengambil langkah drastis dengan memutus total akses internet dan jaringan telepon. Langkah isolasi digital ini bertujuan meredam koordinasi massa dan menghambat penyebaran video kekerasan ke dunia luar.
Organisasi pemantau internet, NetBlocks, mengonfirmasi terjadinya gangguan konektivitas tingkat nasional yang melumpuhkan komunikasi warga sipil serta layanan publik.
Otoritas keamanan berdalih bahwa pemutusan akses dilakukan untuk menjaga stabilitas nasional dari campur tangan pihak asing. Namun, aktivis kemanusiaan menilai tindakan ini sebagai upaya menutupi pelanggaran HAM yang terjadi di lapangan.
Meski di bawah ancaman tindakan keras dan kegelapan informasi, massa dilaporkan tetap turun ke jalan. Dunia internasional kini mulai mendesak pemerintah Iran untuk segera memulihkan akses komunikasi dan menghentikan penggunaan kekerasan terhadap demonstran guna mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa.(*)
