KITAINDONESIASATU.COM – Rusdi Kirana, bos Lion Air dan Wakil Ketua Umum PKB, telah ditunjuk untuk menjadi Wakil Ketua MPR RI periode 2024-2029.
Penunjukkan ini disepakati dalam Rapat Pimpinan Gabungan MPR yang berlangsung pada 2 Oktober 2024, dan akan diumumkan secara resmi dalam rapat paripurna MPR.
Kirana akan mendampingi Ahmad Muzani yang terpilih sebagai Ketua MPR.
Rusdi Kirana, lahir pada 17 Agustus 1963 di Cirebon, adalah seorang pengusaha Indonesia dan pendiri Lion Air.
Ia memperkenalkan model penerbangan bertarif murah di Indonesia dengan mendirikan Lion Air pada 1999.
Rusdi Kirana menghadapi berbagai tantangan saat memulai bisnis Lion Air pada tahun 1999 dengan modal awal sekitar $10 juta.
Ia mengadopsi model penerbangan bertarif murah, yang menuai banyak kritik dari pesaing dan pihak lain, termasuk tuduhan tidak nasionalis.
Untuk mengatasi tantangan ini, Rusdi menyewa pesawat pertama dan merancang logo serta seragam pramugari sendiri, menghemat biaya operasional.
Dalam enam tahun, Lion Air berhasil memiliki pesawat dan menguasai 40% pasar penerbangan domestik.
Sebelum terjun ke dunia politik hingga kini menjadi salah satu pimpinan MPR, Rusdi memulai perjalanan kariernya dari seorang salesman mesin ketik bermerek ‘brother’.
Saat itu Rusdi hanya berpenghasilan US$ 10 atau Rp 120.000 per bulan.
Awalnya kebijakan itu menuai banyak tentangan dari berbagai pihak, khususnya sesama perusahaan penerbangan.
Bahkan Rusdi mengaku pernah dihujat dan dihujani pertanyaan soal modal asing hingga rasa nasionalisme selama tujuh jam di Komisi IV DPR-RI.
Lion Air dituding memiliki hubungan dengan perusahaan penerbangan Singapura, padahal kenyataannya nama Lion diambil dari zodiak dirinya sendiri yang seorang Leo.
Berkat gebrakannya yang banyak menuai kontroversi ini, Lion Air dengan cepat bisa memiliki 24 pesawat yang terdiri dari 19 MD80 dan lima pesawat DHC-8-301. Semua ini dicapai hanya dalam tempo enam tahun sejak pendirian maskapai itu.
Dari sisi jumlah penumpang, maskapai yang didirikan oleh Rusdi bersama saudaranya Kusnan Kirana meraih 600.000 orang lebih per bulan atau menguasai 40 persen dari seluruh segmen pasar.
Hingga pada 2004 Lion Air berhasil menempati posisi kedua maskapai dengan jumlah penumpang yang diterbangkan terbanyak, setelah Garuda Indonesia.
Rusdi Kirana sempat menghebohkan dunia penerbangan internasional pada 2011 dan 2013 lalu.
Sebab pada 2011 lalu, Lion Air dan Boeing telah memfinalisasi rekor pembelian 230 pesawat 737 senilai US$ 22,4 miliar di depan Presiden Barack Obama.
Sedangkan pada 2013, Lion Group, termasuk Batik Air, meneken kontrak pembelian 234 pesawat Airbus senilai US$ 24 miliar yang disaksikan langsung Presiden Prancis François Hollande.
Kendati demikian, Rusdi, yang mencatatkan sejarah dengan rekor fantastis pembelian pesawat dari dua pabrikan raksasa ini, tetap saja berbicara kesederhanaan.
Gaya hidup sederhana dan pendidikan tetap menjadi fokus Rusdi. Ia bahkan tetap berupaya menerbangkan seluruh penumpangnya dengan kelas ekonomi.
Namun di kalangan dunia penerbangan, Rusdi sempat ‘ngamuk’ ketika maskapai penerbangan Indonesia di-black list tak bisa terbang ke Eropa. Rusdi mengatakan hal itu tidak adil.
Di sisi lain, kesuksesannya di dunia bisnis tidak membuat Rusdi berhenti. Ia terjun ke dunia politik pada tahun 2014 di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan jabatan Wakil Ketua Umum.
Akibatnya di tahun yang sama Rusdi tercatat sudah tidak menjabat President Director Lion Air lalu.
Namun bos maskapai ini tetap aktif terlibat dalam memberikan arah strategis jangka panjang Lion Group, termasuk Batik Air.
Kemudian pada 2017, ia sempat diangkat menjadi duta besar Indonesia untuk Malaysia.
Rusdi juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Penasihat Presiden Joko Widodo dan wakil ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa.
Terlepas dari itu berkat kesuksesan Lion Air ini, Rusdi Kirana dan Kusnan Kirana sempat masuk ke dalam daftar orang terkaya di Indonesia pada tahun 2019 versi Forbes.
Total harta kekayaannya saat itu mencapai US$ 835 juta atau sekitar Rp 12,9 triliun (kurs Rp 15.541).
Pengusaha sekaligus Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Rusdi Kirana, dilantik sebagai salah satu pimpinan MPR RI. Bos maskapai Lion Air itu menduduki jabatan Wakil Ketua MPR perwakilan Fraksi PKB.
Sebelum terjun ke dunia politik hingga kini menjadi salah satu pimpinan MPR, Rusdi memulai perjalanan kariernya dari seorang salesman mesin ketik bermerek ‘brother’. Saat itu Rusdi hanya berpenghasilan US$ 10 atau Rp 120.000 per bulan.
Dalam laporan Antara, disebutkan Rusdi baru merintis bisnis maskapai penerbangan Lion Air itu dimulai pada Oktober 1999 lalu dengan modal US$ 10 juta.
Ia menggagas “revolusi” dalam dunia penerbangan dengan konsep biaya murah (low cost carrier).
Awalnya kebijakan itu menuai banyak tentangan dari berbagai pihak, khususnya sesama perusahaan penerbangan.
Bahkan Rusdi mengaku pernah dihujat dan dihujani pertanyaan soal modal asing hingga rasa nasionalisme selama tujuh jam di Komisi IV DPR-RI.
Lion Air dituding memiliki hubungan dengan perusahaan penerbangan Singapura, padahal kenyataannya nama Lion diambil dari zodiak dirinya sendiri yang seorang Leo.
Berkat gebrakannya yang banyak menuai kontroversi ini, Lion Air dengan cepat bisa memiliki 24 pesawat yang terdiri dari 19 MD80 dan lima pesawat DHC-8-301.
Semua ini dicapai hanya dalam tempo enam tahun sejak pendirian maskapai itu.
Dari sisi jumlah penumpang, maskapai yang didirikan oleh Rusdi bersama saudaranya Kusnan Kirana meraih 600.000 orang lebih per bulan atau menguasai 40 persen dari seluruh segmen pasar.
Hingga pada 2004 Lion Air berhasil menempati posisi kedua maskapai dengan jumlah penumpang yang diterbangkan terbanyak, setelah Garuda Indonesia.
Rusdi Kirana sukses di dunia politik berkat kombinasi pengalaman bisnis dan jaringan yang kuat.
Setelah mendirikan Lion Air dan menjadi pengusaha terkemuka, ia bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada 2013, di mana ia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum dan berperan penting dalam meraih suara pada pemilu 2014.
Keterlibatannya dalam politik juga didorong oleh rasa hormat terhadap Gus Dur, pendiri PKB, dan keinginannya untuk menggerakkan ekonomi masyarakat Nahdlatul Ulama.
Selain itu, Rusdi dipercaya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden, menunjukkan pengakuan atas kapabilitasnya di kancah politik.
Rusdi Kirana berkontribusi terhadap ekonomi kerakyatan warga Nahdlatul Ulama (NU) melalui pengembangan maskapai Lion Air yang menawarkan tiket penerbangan terjangkau.
Dengan konsep low-cost carrier, ia berhasil membuat penerbangan lebih aksesibel bagi masyarakat, terutama kali merumuskan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi rakyat. *






