KITAINDONESIASATU.COM – Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengeluarkan pernyataan mengejutkan terkait krisis air yang kini menghantam seluruh wilayah negaranya. Ia menegaskan, pasokan air di hampir semua provinsi Iran berada dalam kondisi kritis akibat kekeringan terparah dalam enam dekade terakhir.
Kondisi darurat ini membuat sejumlah waduk utama Iran mengering drastis dan memaksa otoritas di Teheran memberlakukan pemadaman air setiap malam. Situasi tersebut memicu kekhawatiran luas, terutama di kawasan perkotaan yang sangat bergantung pada pasokan air bersih.
“Masalah air terjadi di seluruh provinsi. Pasokan air Iran berada dalam kondisi krisis,” ujar Presiden Pezeshkian saat menyampaikan pidato di hadapan parlemen, Selasa (23/12).
Sebelumnya, pada November, Pezeshkian mengungkap fakta mencengangkan bahwa sepanjang 2025 Iran hanya menerima sekitar tiga persen dari curah hujan normal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini diperparah dengan laporan kantor berita ISNA pada 1 Desember yang menyebut waduk utama Iran kini hanya terisi sekitar 32 persen.
Krisis air ini berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Kepala perusahaan sumber daya air Iran, Hashem Amini, memperkirakan hampir separuh populasi perkotaan Iran saat ini mengalami kekurangan air minum.
Amini juga membeberkan fakta mengkhawatirkan lainnya. Dalam kurun waktu kurang dari 30 tahun, volume sumber air terbarukan Iran anjlok dari 132 miliar meter kubik menjadi hanya 90 miliar meter kubik—turun lebih dari 30 persen. Ironisnya, di saat yang sama, konsumsi air nasional justru terus meningkat. (*)

