Sejarah

Prasasti Batutulis Jadi Kunci, Bogor Tegaskan Sejarah Pajajaran

×

Prasasti Batutulis Jadi Kunci, Bogor Tegaskan Sejarah Pajajaran

Sebarkan artikel ini
IMG 20251218 WA0018 1 scaled
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menghadiri diskusi kelompok terpumpun perumusan narasi Museum Pajajaran Kota Bogor di Bumi Ageung. (Kis/ist)

KITAINDONESISATU.COM- Isu penguatan identitas sejarah dan kebudayaan Kota Bogor kian menguat seiring langkah konkret menuju pendirian Museum Pajajaran. Upaya ini tidak hanya dipandang sebagai pembangunan fisik semata, tetapi juga sebagai ikhtiar strategis merawat ingatan kolektif dan menegaskan peran Bogor dalam perjalanan peradaban Nusantara. Komitmen tersebut ditegaskan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, saat menghadiri diskusi kelompok terpumpun (FGD) bertajuk “Perumusan Narasi Museum Pajajaran Kota Bogor” di Bumi Ageung, Rabu 17 Desember 2025.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Jawa Barat bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor.

FGD tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, beberapa waktu lalu yang menyampaikan komitmennya untuk memfasilitasi forum diskusi sebagai langkah awal mewujudkan Museum Pajajaran.

Dedie Rachim mengatakan, saat berkunjung ke Bumi Ageung dan Prasasti Batutulis, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa tidak ada keraguan secara historis bahwa Kota Bogor merupakan salah satu lokasi berdirinya Kerajaan Pajajaran. Oleh karena itu, Kota Bogor dinilai sangat layak memiliki Museum Pajajaran sebagai pusat edukasi sejarah dan kebudayaan.

“Jadi intellectual property right untuk Museum Pajajaran adalah Kota Bogor, karena fakta sejarahnya menunjukkan bahwa Sri Baduga Maharaja dinobatkan di sini dan adanya Prasasti Batutulis sebagai artefak utamanya,” ujar Dedie.

Ia menambahkan, ke depan Pemerintah Kota Bogor bersama Kementerian Kebudayaan, BPK Wilayah IX Jawa Barat, budayawan, sejarawan, akademisi, komunitas penggiat pelestarian sejarah, seniman, para ahli, serta seluruh unsur terkait akan terus berdiskusi dalam kelompok terpumpun. Diskusi tersebut diarahkan untuk merumuskan bagaimana Museum Pajajaran dapat berfungsi sebagai ruang pembelajaran, edukasi, sekaligus edutainment yang menarik bagi generasi muda.

“Ke depan, generasi muda bisa mengetahui bahwa dari sinilah terdapat kontribusi terhadap perkembangan bangsa Indonesia, yang di dalamnya ada peran penting masyarakat Sunda, salah satunya berasal dari Kota Bogor yang saat itu dikenal dengan Pakuan Pajajaran,” ucapnya.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Wawan Yogaswara, menjelaskan bahwa museum secara umum memiliki sejarah dan perkembangan yang panjang. Pada awalnya, museum difungsikan sebagai tempat mengumpulkan hasil penelitian, kemudian berkembang menjadi sarana pameran dan pengumpulan benda sejarah yang bernilai pendidikan, budaya, hingga alam.

“Sehingga di Indonesia, regulasi museum hingga saat ini masih mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 serta Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Museum,” ucapnya.

Hal senada disampaikan Direktur Sejarah dan Permuseuman, Agus Mulyana. Ia mengatakan bahwa dengan kehadiran Museum Pajajaran ke depan, Jawa Barat akan memiliki museum yang dilengkapi berbagai koleksi khas Kota Bogor yang memiliki kekhasan serta perjalanan sejarah yang panjang.

Sementara itu, Kepala BPK Wilayah IX Jawa Barat, Retno, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan mendukung upaya penelusuran jejak peradaban kuno yang telah ada, untuk kemudian ditemukenali kembali dan diaktivasi. Dengan demikian, generasi muda di masa mendatang tidak melupakan akar budaya dan sejarahnya.

“Kegiatan penyusunan narasi ini merupakan arahan langsung dari Menteri Kebudayaan, Bapak Fadli Zon, saat bertemu dengan Wali Kota Bogor untuk merumuskan sejarah serta perannya bagi peradaban di Indonesia. Oleh karena itu, kegiatan ini sangat penting dan diisi oleh berbagai pemangku kebijakan serta kepentingan,” ucapnya.

Kepala Disparbud Kota Bogor, Firdaus, menuturkan bahwa peran Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat sangat strategis dalam merumuskan arah pengembangan museum ke depan. Ia menyampaikan bahwa pembangunan tahap pertama telah rampung dengan berdirinya Gedung Museum Bumi Ageung.

“Pembangunan tahap pertama telah selesai dengan berdirinya Gedung Museum Bumi Ageung. Saat ini kita merumuskan langkah strategis berikutnya, terutama terkait narasi atau storyline museum agar terus berkembang, termasuk pengisian koleksi,” kata Firdaus.

Firdaus menekankan bahwa penyusunan narasi Museum Pajajaran tidak dapat dilakukan secara sepihak. Seluruh pemangku kepentingan harus dilibatkan agar museum memiliki alur cerita sejarah yang kuat, utuh, dan komprehensif, sekaligus mampu menjadi ruang edukasi yang relevan bagi masyarakat luas. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *