Oleh: Candra A Rachman Hakim, S.Sn
KITAINDONESIASATU.COM - Seni pertunjukan teater tradisional Ketoprak merupakan seni drama klasik khas Jawa Tengah khususnya Surakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggunakan bahasa Jawa ngoko dan kromo.
Ketoprak seringkali dimainkan dalam ruang-ruang khusus seperti Gedung Wayang Orang Sriwedari, Statsiun Radio RRI Surakarta dan juga dalam ranah pertunjukan rakyat dimana naskah lakon diangkat dari cerita sejarah atau folklore, seperti yang dilakukan oleh Dr. Eko Wahyu Prihantoro, S.Sn, M.Sn yang menggarap lakon “Manunggale Katresnan” yang dipentaskan pada Sabtu 22 November 2025 di Pendhapa Watu Wayang Ploso, Jumapolo, Karanganyar.
Kisah romantis antara dua insan yang terhalang oleh mitos yang lahir dari desa mereka masing-masing, berkolaborasi dengan kelompok Kethoprak: Ploso Budoyo.
Seperti yang diutarakan dalam wawancara langsung pada 26 November 2025 di Gedung Teater Besar ISI Surakarta dengan beliau, tentang kemunculan lakon tersebut bermula ketika Pak Lurah Endro Tri Handono, S.T menginginkan masyarakatnya itu rukun, karena ada sebuah mitos yang mengatakan bahwa Dusun Ngemplak dan Dusun Thengklik tidak boleh besanan atau diantara orang dari kedua desa tersebut tidak boleh saling menikah. Hal tersebut akhirnya menyebabkan ketidak rukunan antar warga desa walaupun tak nampak secara fisik.
Dari fenomena itu Dr. Eko Wahyu Prihantoro melakukan observasi tentang mitos di daerah tersebut, hasilnya adalah ditemukan adanya sebuah Sendhang Reca. Sendhang adalah nama lain dari sumber mata air, lalau munculah sebuah ide tentang bagaimana ide konstruksi teks naskah lakon itu diciptakan dari permasalahan yang akan dipecahkan (ketidak rukunan masyarakat) lalu menggabungkan antara mitos dan konteks untuk menjadi sebuah sajian pertunjukan yang mengarah pada demistifikasi, atau peruntuhan suatu mitos di masyarakat dengan tujuan tertentu.
“Menurut saya, penemuan sendhang tersebut menjadi sebuah simbol untuk mengingat kembali bagaimana dahulu desa itu terbentuk dan bertahan hingga sekarang, bien sumber mata air itu digunakan oleh mbah-mbah’e wong kono kanggo kebutuhan sehari-hari, hananging semenjak ono PDAM/PAM masyarakat wus ora ngrumat sendhang reco kui mau.”
Dalam dunia modern saat ini mitos-mitos yang berkembang di masyarakat pedesaan menjadi sebuah folklore yang terbungkus oleh kesan horror, mengerikan dan sesuatu yang ganjil sulit ditangkap oleh logika hal tersebut selalu merujuk pada pohon-pohon besar, sumber-sumber mata air alami di tengah hutan atau pegunungan yang di tinggali oleh suatu entitas yang liyan. Di era informasi yang semakin cepat serta pengetahuan yang mudah diakses seharusnya mitos, legenda, dan takhayul itu berlahan ter-reduksi sedikit-demi sedikit, namun faktanya hal tersebut tidak demikian.
“Pak Lurah, tidak menginginkan hal-hal semacam itu terus terjadi, lha nek ning Jowo, mitos itu jika diyakini oleh lebih dari empat puluh orang, jarene Bapak ku sama dengan ngendhikane para Wali, dan itu akan terjadi.”
Dalam ide besar beliau sebenarnya lebih ingin mengajak masyarakat lewat karya Ketoprak nya “Manunggale Katresnan” supaya tetap merawat alam dengan baik, karena dengan begitu alam juga akan merawat kita. Sendhang Reco itu menurut beliau juga salah satu peninggalan sejarah yang harus dijaga.
Mengingat isu-isu global yang sedang bergerak menuju pada masa depan konservasi air karena krisis air dunia, di kutip dari Laporan dan studi lingkungan: Organisasi seperti PBB, Bank Dunia, atau lembaga riset lingkungan secara rutin menerbitkan laporan yang menekankan kelangkaan air dan potensi konflik di masa depan. Karena dimasa depan siapa yang menang adalah dia yang memegang akses paling banyak terhadap sumber daya alam, terutama air.
Maka, dari sendhang (sumber mata air) di sebuah desa kecil di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah ini Dr. Eko menyuarakan isu yang tidak sekedar isu lokal, namun sebetulnya merupakan kegelisahan kita semua dimasa depan entah disadari maupun tidak disadari, dan dari lakon sanggit ketoprak karya beliau inilah embrio suara-suara itu akan terus bergema, dengan berbasis local culture berharap masadepan Indonesia menjadi lebih baik dengan berdasarkan pemikiran yang kembali ke alam.
Seperti dialog yang muncul dalam adegan akhir dari pertunjukan tersebut, yaitu ruwatan yang dilakukan oleh karakter Ki Demang Ponco Wandoyo dalam upaya menghentikan konflik yang terjadi:
“Ayo masyarakat kabeh yakin lan nyenyuwun marang Gusti kanthi dasar, bhener ing laku, antheb ing tekad, resik ing ati yuwun kalihan Gusti Allah.” **
