KITAINDONESIASATU.COM – Tren thrifting atau membeli pakaian bekas impor semakin populer di kalangan anak muda, terutama Gen Z. Selain karena harganya murah, koleksi pakaian thrift sering dianggap unik, ramah lingkungan, dan mampu memberikan kesan “fashionable tanpa mahal”. Namun di balik semua itu, ada risiko kesehatan beli baju bekas thrifting yang jarang diketahui pembeli.
Meski harganya terjangkau dan menarik, pakaian bekas yang berasal dari luar negeri tidak selalu dalam kondisi bersih. Tanpa proses sterilisasi yang tepat, pakaian ini dapat menjadi media penularan penyakit. Para ahli dari Perdoski (Persatuan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia) juga mengingatkan bahwa pakaian berbahan kain bisa menyimpan bakteri, jamur, telur parasit, hingga virus tertentu.
Lalu, apa saja risiko kesehatannya? Bagaimana cara aman menggunakan pakaian thrift? Simak artikel lengkap ini sebelum kamu memutuskan membeli pakaian bekas.
Apa Itu Pakaian Thrifting?
Thrifting merujuk pada praktik membeli pakaian bekas yang telah digunakan orang lain. Menurut penjelasan Kementerian Perdagangan RI, pakaian thrift biasanya berasal dari donasi, limbah tekstil, atau gudang penampungan pakaian bekas impor dari negara lain. Barang-barang tersebut kemudian dijual kembali dengan harga murah di pasar lokal.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022 menyebutkan bahwa pakaian thrift terbanyak di Indonesia berasal dari Jepang dan Australia. Tren ini digandrungi terutama oleh Gen Z—sekitar 90% pembeli pakaian bekas berasal dari kelompok usia tersebut. Bahkan, peminatnya terus meningkat meski pemerintah telah melarang penjualan pakaian bekas impor lewat Permendag No. 40/2022.
Faktor harga murah, model yang unik, dan alasan ramah lingkungan menjadi pemicu tingginya minat terhadap thrifting. Namun, banyak pembeli belum memahami bahwa risiko kesehatan beli baju bekas thrifting cukup besar jika pakaian tidak melalui proses pembersihan yang tepat.
Risiko Kesehatan Beli Baju Bekas Thrifting
Pakaian bekas terlihat bersih bukan berarti benar-benar bebas dari mikroorganisme. Peneliti dan dokter spesialis kulit menyebut bahwa kain dapat menjadi media bertahan hidup bagi bakteri, jamur, parasit, bahkan virus.
Berikut beberapa penyakit yang berpotensi menular melalui pakaian bekas thrifting:
- Kudis (Scabies)
Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Parasit ini mampu hidup di serat pakaian selama beberapa hari. Bila pakaian thrift tidak dicuci dengan benar, tungau dapat berpindah ke kulit dan menggali liang yang menimbulkan rasa gatal hebat, terutama pada malam hari.
Gejalanya meliputi:
- gatal intens,
- bintil merah,
- ruam yang mudah menyebar.
Risiko meningkat jika pakaian thrift dicoba oleh banyak orang sebelum dibeli.
- Jamur Kulit (Dermatofitosis / Tinea)
Jamur dermatofit dapat bertahan lama pada pakaian yang lembap dan tertumpuk, seperti kondisi karung balpres. Infeksi jamur menyebabkan bercak merah bersisik, gatal, iritasi, dan bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Penyebabnya antara lain:
- pakaian tidak dicuci,
- penyimpanan lembap,
- mencoba pakaian thrift langsung di pasar.
Tanpa perawatan, infeksi jamur dapat berkembang menjadi kronis.
- Infeksi Bakteri (Impetigo)
Impetigo disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes. Bakteri ini dapat menempel pada kain dan masuk ke kulit melalui luka atau goresan kecil.
Gejalanya berupa:
- lepuhan berisi cairan,
- kerak kuning,
- rasa perih.
Pakaian yang tampak bersih belum tentu steril, karena proses sortir dan distribusi pakaian bekas sering dilakukan tanpa standar kebersihan.
- Herpes Simpleks (HSV)
Meski jarang, virus HSV dapat bertahan pada permukaan kain lembap. Risiko meningkat jika pakaian pernah digunakan oleh penderita herpes aktif. Gejalanya berupa lenting berisi cairan yang mudah pecah, terasa nyeri, dan dapat menyebar.
- Molluscum Contagiosum
Infeksi ini disebabkan oleh virus pox yang mudah menular melalui pakaian atau kain yang terkontaminasi. Penyakit ini lebih rentan menyerang anak-anak dan orang dengan daya tahan tubuh rendah.
Gejalanya:
- benjolan kecil,
- permukaan licin,
- kadang terasa gatal.
Pakaian bekas yang tidak dicuci dengan air panas atau disterilkan berisiko tinggi menjadi media penularan virus ini.
- Pedikulosis (Kutu Badan atau Kutu Kepala)
Kutu sangat mudah berpindah melalui pakaian bekas, topi, syal, hingga jaket. Telur kutu (nits) bisa menempel pada lipatan kain dan mampu bertahan hidup lebih lama dari kutunya.
Gejalanya:
- gatal intens,
- luka garukan,
- iritasi kulit.
Jaket tebal, hoodie, dan topi bekas adalah kategori yang paling sering membawa parasit ini.
- Eksim dan Iritasi Kulit
Selain penyakit menular, pakaian thrift juga bisa memicu iritasi. Hal ini disebabkan oleh:
- debu atau jamur,
- residu bahan kimia dari proses pengawetan,
- pewangi atau cairan penetral bau,
kotoran mikroorganisme mikro yang menempel pada kain.
Iritasi dapat berkembang menjadi eksim parah jika tidak ditangani. Kulit sensitif lebih rentan mengalami kemerahan, gatal, atau ruam setelah memakai pakaian thrift tanpa dicuci.
Mengapa Risiko Pakaian Thrifting Bisa Tinggi?
Ada beberapa faktor yang membuat pakaian bekas rentan menimbulkan penyakit:
- Tidak ada jaminan kebersihan selama proses sortir, pengiriman, dan penyimpanan.
- Banyak pakaian dicoba berkali-kali oleh calon pembeli.
- Penyimpanan balpres sering lembap dan kotor.
- Proses fumigasi (jika ada) tidak membunuh semua mikroorganisme.
- Pembersihan hanya sebatas penyemprotan parfum untuk menghilangkan bau.
Itulah sebabnya, meski terlihat bersih, pakaian thrift tetap harus dicuci dan disterilkan sebelum dipakai.
Cara Aman Menggunakan Pakaian Thrift
Supaya tetap bisa bergaya tanpa mengorbankan kesehatan, ikuti langkah berikut:
- Cuci pakaian dengan air panas (minimal 60°C) untuk membunuh bakteri dan jamur.
- Gunakan detergen antibakteri dan tambahkan disinfektan pakaian.
- Strike dengan suhu tinggi, terutama bagian lipatan dan jahitan tempat kutu atau jamur bisa bersembunyi.
- Jemur langsung di bawah sinar matahari yang membantu mensterilkan kain.
- Hindari mencoba pakaian thrift di pasar sebelum mencucinya.
- Pilih penjual yang terpercaya, yang memproses barangnya dengan standar kebersihan lebih baik.
- Waspadai gejala kulit seperti gatal, bercak merah, atau iritasi setelah memakai pakaian bekas.
Tren beli baju bekas thrifting memang menawarkan banyak keuntungan: murah, unik, dan ramah lingkungan. Namun risiko kesehatan beli baju bekas thrifting tidak boleh diabaikan. Mulai dari scabies, jamur kulit, infeksi bakteri, hingga parasit, semua bisa menular dari pakaian yang tidak dicuci dengan benar.
Selama kamu bisa memilih penjual terpercaya dan selalu mensterilkan pakaian thrift sebelum dipakai, tren ini tetap dapat dinikmati dengan aman. Jangan hanya tergiur harga murah—pastikan kesehatan tetap menjadi prioritas utama.


