Berita UtamaNews

Jakarta Rawan Depresi, Kemenkes Ungkap Angka Tertinggi di Atas Nasional

×

Jakarta Rawan Depresi, Kemenkes Ungkap Angka Tertinggi di Atas Nasional

Sebarkan artikel ini
FotoJet 9 14
Ilustrasi.

KITAINDONESIASATU.COM – Ibu kota kembali jadi sorotan nasional. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merilis data mengejutkan bahwa persentase warga Jakarta usia 15 tahun yang mengalami depresi lebih tinggi dari angka nasional.

Temuan ini langsung direspons Staf Khusus Gubernur DKI Bidang Komunikasi Sosial, Chico Hakim, yang mengakui masalah itu bukan isapan jempol.

“Tekanan hidup di Jakarta memang nyata. Kami terus bekerja keras untuk menekan angka tersebut,’’ ujar Chico, Senin (24/11). Menurutnya, beban hidup tinggi di ibukota membuat warganya lebih rentan secara mental.

Baca Juga  Prakiraan Cuaca Jakarta 14 Februari 2025, Berawan dan Hujan Ringan di Sore Hari

Tak tinggal diam, Pemprov DKI mengaku tengah mengebut berbagai program layanan psikologi untuk menahan lonjakan masalah mental. Mulai dari JakCare, layanan konsultasi psikolog gratis 24 jam via telepon dan aplikasi JAKI, hingga skrining kesehatan jiwa gratis lewat Program CKG yang sudah menjangkau ratusan ribu warga.

Selain itu, edukasi dan workshop kesehatan mental juga digelar di sekolah-sekolah dan komunitas, termasuk penambahan psikolog klinis di puskesmas kecamatan.

“Kami ingin akses makin mudah dan stigma makin hilang. Jakarta bahagia itu bukan slogan, tapi saat warganya didengar dan didukung,” tegas Chico.

Baca Juga  Ngantuk saat Berkendara! Dua Sepeda Motor Bertabrakan di Driyorejo Gresik, Begini Kondisi Korban

Dari data Kemenkes, angka depresi Jakarta mencapai 1,5 persen, sedikit di atas angka nasional 1,4 persen. Masalah kesehatan jiwa bahkan menjadi penyakit terbanyak kedua untuk kelompok usia 15 tahun.

Provinsi dengan angka gangguan mental tertinggi adalah Jawa Barat (4,4 persen), jauh di atas rata-rata nasional 2 persen. Sementara prevalensi masalah kesehatan jiwa di Jakarta berada di 2,2 persen berdasarkan SKI 2023.

Kemenkes memperingatkan bahwa akses pengobatan mental masih sangat rendah. Banyak penderita cemas dan depresi enggan mencari bantuan profesional karena minimnya kesadaran dan kuatnya stigma. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *