KITAINDONESIASATU.COM -Hanya bermodal pengalaman guru dan buruh pabrik, Karmaka Surjaudaja melukis jalan hidup hingga sukses mendirikan PT Bank OCBC NISP Tbk.
Jauh sebelum jadi bankir, dia pernah menjadi buruh pabrik. Juga mengikuti jejak sang ayah menjadi guru di Sekolah Dasar dan Menengah Nan Hua Bandung sekitar tahun 1959, sembari nyambi guru les. Lantaran sebagai guru penghasilannya minim.
Ternyata takdir menentukan lain. Pekerjaannya sebagai guru menjadi langkah untuk berkenalan dengan bank swasta tertua bernama NISP (Nederlandsch Indische Spaar En Deposito) Bank.
Ia memiliki murid bernama Liem Kwei Ing. Lim merupakan murid Karmaka yang juga anak dari pemilik NISP, Lim Khe Tjie.
Usai menikah dengan anak pemilik NISP pada 1959, Karmaka resign karena permintaan mertuanya. Berikutnya dia bekerja untuk pabrik tekstil milik temannya di Majalaya, NV Padasuka.
Di sana dia bekerja sebagai manajer efisiensi. Pengalamannya sebagai buruh pabrik membuat pekerjaanya begitu mudah.
Sementara itu menjadi menantu dari pemilik Bank NISP, tak membuatnya ingin mengikuti perkembangan perusahaan tersebut.
Bahkan dia juga tak ikut campur di bank tersebut, saat mertuanya pergi cukup lama ke RRT (Republik Rakyat Tiongkok) pada 1960-an.
Namun kepergian mertua ke daratan Tiongkok, membuat Karmaka menjadi tempat curhat oleh para pegawai NISP. Ceritanya seputar sesuatu yang aneh di internal dan meminta Karmaka ikut mengatasinya.




