KITAINDONESIASATU.COM – Wacana penyesuaian tarif layanan bus TransJakarta kembali mencuat, dan Fraksi Partai Gerindra di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta menyatakan dukungannya. Para legislator dari Gerindra menilai bahwa kenaikan tarif dari Rp 3.500 menjadi Rp 5.000 masih dalam batas yang wajar dan terjangkau bagi masyarakat, asalkan dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan secara signifikan.
Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Gerindra, Nova Harivan Paloh, menyoroti bahwa tarif TransJakarta saat ini sudah tidak mengalami perubahan sejak tahun 2005. Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta menanggung beban subsidi transportasi publik yang sangat besar, mencapai sekitar Rp 6 triliun per tahun, dengan alokasi terbesar untuk TransJakarta.
“Memang kalau misalnya (tarif naik) segitu (Rp 5.000), saya rasa wajar ya,” ujar Nova. “Kalau bensin saja seliternya sekarang sudah berapa? Rp 13 ribu, ya kan? Sementara TransJakarta tetap Rp 3.500.”
Dukungan serupa juga datang dari Wakil Ketua DPRD DKI Fraksi Gerindra, Rani Mauliani, Rabu 12 November 2025. Ia berpendapat bahwa tarif Rp 5.000 tetap terjangkau karena pengguna TransJakarta hanya perlu membayar sekali untuk perjalanan jauh dan terintegrasi. “Secara logika saja, Rp 5.000 bisa naik kendaraan umum dari ujung ke ujung terintegrasi cukup sekali bayar, masa harus keberatan?” katanya.
Pihak Gerindra menekankan bahwa kenaikan tarif harus diimbangi dengan perbaikan fasilitas, peningkatan kenyamanan, keselamatan, dan pengurangan waktu tunggu penumpang. Mereka melihat penyesuaian tarif ini sebagai bagian dari subsidi silang, mengingat 15 golongan masyarakat tertentu tetap mendapatkan fasilitas TransJakarta gratis. Penyesuaian ini diharapkan dapat membantu menyeimbangkan beban subsidi dan mendorong peningkatan layanan TransJakarta.(*)
