KITAINDONESIASATU.COM – Kabar menarik datang dari dunia perfilman Indonesia! Rumah produksi Falcon Pictures baru saja merilis poster resmi film Waluh Kukus—sebuah adaptasi dari kisah viral yang sempat menggemparkan media sosial Twitter (sekarang X) pada tahun 2021.
Cerita “Waluh Kukus” yang kala itu menggetarkan hati jutaan warganet akhirnya akan diangkat ke layar lebar. Sosok Yati, yang dikenal lewat kisah itu, kembali menjadi perbincangan karena karakternya yang membekas di ingatan pembaca.
Lalu, seperti apa sebenarnya awal mula kisah Waluh Kukus yang membuat netizen begitu emosional hingga akhirnya diangkat menjadi film? Berikut ulasan lengkapnya!
Awal Mula Kisah Viral “Waluh Kukus” di Twitter
Cerita Waluh Kukus pertama kali muncul pada 17–18 Juli 2021, ketika seorang pengguna Twitter dengan nama akun @ainayed membagikan sebuah utas (thread) tentang pengalaman masa kecilnya yang penuh kenangan pahit.
Dalam utas itu, ia menulis kisah nyata yang menggambarkan kemiskinan, rasa malu, serta cinta tulus seorang ibu. Judul “Waluh Kukus” diambil dari makanan sederhana yang menjadi pusat cerita — waluh (labu kuning) yang dikukus dan disajikan untuk anak-anak tadarusan di langgar.
Thread tersebut viral dalam waktu singkat. Ribuan warganet me-retweet, mengomentari, dan mengekspresikan betapa cerita itu menyayat hati dan menguras emosi. Tak sedikit pula yang mengaku menangis setelah membacanya hingga selesai.
Kehidupan Penuh Perjuangan: Dari Kemiskinan hingga Waluh Kukus
Dalam ceritanya, akun @ainayed mengisahkan masa kecilnya yang berat. Ia hidup bersama ibunya yang bekerja sebagai buruh serabutan, sementara ayahnya kabur meninggalkan keluarga.
Suatu hari, sang ibu membantu panen waluh dan mendapatkan upah berupa dua buah labu kuning—satu besar dan satu kecil. Karena masih mentah, waluh itu disimpan selama dua bulan hingga benar-benar matang.
Ketika akhirnya matang, sang ibu mengukus waluh tersebut dengan harapan bisa dibagikan kepada anak-anak di langgar saat tadarusan bulan Ramadan. Ia percaya bahwa hasil masakannya akan membuat senang banyak orang. Namun, nasib berkata lain.
Momen di Langgar: Waluh Kukus yang Diolok-olok
Saat tiba waktu tadarusan, waluh kukus yang disiapkan sang ibu dibawa oleh sang anak ke langgar. Namun, dari belasan anak yang hadir, hanya satu dua orang yang mau mencicipinya.
Di sinilah muncul karakter yang kini menjadi “ikon” dalam kisah ini: Yati. Ia merasa jijik melihat waluh kukus itu dan bahkan mengatakan bahwa makanan tersebut “mirip kotoran”. Ucapan itu sontak membuat suasana berubah.
Akun @ainayed yang kala itu masih kecil merasa sangat terluka dan marah. Ia mencoba membela diri, tapi justru ditertawakan oleh Yati dan teman-temannya. Hingga akhirnya, tadarusan selesai tanpa ada satu pun anak yang benar-benar menghargai makanan yang dibawa ibunya.
Air Mata dan Waluh Kukus yang Tumpah
Selepas tadarus, waluh kukus itu masih utuh satu ember penuh. Dalam kesedihan dan rasa malu, akun @ainayed membawa pulang ember tersebut. Namun, sebelum sampai rumah, ia teringat ibunya akan senang jika mengetahui makanan itu habis.
Dengan hati yang berat, ia pun memutuskan untuk memakan waluh kukus itu sendiri di pinggir jalan, meskipun perutnya sudah tidak kuat lagi. Ia memaksakan diri hingga tersisa setengah ember.
Saat hendak pulang melewati jalan gelap, ia tersandung dan ember berisi waluh kukus pun tumpah ke tanah. Dalam ketakutan, ia berusaha mengambilnya satu per satu, tapi akhirnya membuang semua sisa waluh itu ke selokan sambil menangis.
Perasaan bersalah dan sedih bercampur jadi satu. Ia muntah karena terlalu kenyang, namun tetap memaksakan diri untuk membawa pulang ember kosong agar ibunya tidak kecewa.
Cinta Ibu yang Menyayat Hati
Sesampainya di rumah, tubuhnya kotor dan lelah. Ketika ibunya bertanya, ia menjawab dengan jujur bahwa ia jatuh di jalan. Namun, ketika ditanya siapa saja yang memakan waluh kukus tersebut, ia menyebut nama anak-anak di langgar — termasuk Yati.
Ibunya tersenyum dan berulang kali mengucap syukur karena mengira makanan itu habis disantap anak-anak tadarusan.
Momen sederhana itu menjadi salah satu bagian paling menyentuh dari kisah Waluh Kukus. Banyak pembaca mengaku tidak bisa menahan air mata ketika membaca bagian ini, karena menggambarkan cinta seorang ibu yang polos dan penuh harapan di tengah kemiskinan.
Sejak malam itu, akun @ainayed mengaku tidak pernah lagi mau makan waluh kukus — bukan karena tidak suka, tapi karena kenangan pahit yang melekat kuat di hatinya.
Falcon Pictures Siap Angkat “Waluh Kukus” ke Layar Lebar
Kini, empat tahun setelah cerita itu viral, Falcon Pictures resmi mengumumkan bahwa kisah Waluh Kukus akan diadaptasi menjadi film layar lebar.
Melalui unggahan di akun resmi X mereka, @falconpictures, pada 10 November 2025, Falcon membagikan poster resmi film “Waluh Kukus” yang langsung menarik perhatian warganet.
Poster tersebut menampilkan suasana suram khas pedesaan dan simbol ember waluh kukus yang menjadi inti dari cerita. Dalam waktu singkat, unggahan itu ditonton lebih dari 197 ribu kali, menandakan tingginya antusiasme publik terhadap proyek ini.
Meski Falcon Pictures belum mengumumkan tanggal resmi penayangan filmnya, para pengguna media sosial sudah membanjiri kolom komentar dengan rasa penasaran dan nostalgia terhadap kisah Yati dan waluh kukus.
Respons Warganet: Antara Trauma dan Nostalgia
Menariknya, setiap kali ada foto atau video waluh kukus muncul di linimasa X, banyak warganet yang langsung teringat dengan kisah Yati. Beberapa bahkan menulis ulang pengalaman pribadi mereka yang serupa dengan cerita itu.
Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya dampak emosional cerita sederhana ini. Tidak hanya tentang kemiskinan, tetapi juga tentang martabat, cinta keluarga, dan luka batin yang terbentuk dari ejekan masa kecil.
Tak sedikit pula yang menantikan bagaimana Falcon Pictures akan mengadaptasi kisah ini — apakah akan tetap setia pada versi asli yang menyayat hati, atau memberi sentuhan baru agar bisa diterima lebih luas oleh penonton.
Kesimpulan: Dari Utas Viral Menjadi Film yang Dinanti
Cerita Waluh Kukus bukan sekadar kisah viral di media sosial. Ia adalah potret nyata perjuangan hidup masyarakat kecil, tentang cinta seorang ibu, harga diri, dan kenangan masa kecil yang tak pernah benar-benar hilang.
Kini, dengan hadirnya adaptasi film dari Falcon Pictures, kisah ini berpotensi menghidupkan kembali kenangan yang pernah menggetarkan hati jutaan orang.
Warganet pun berharap film Waluh Kukus akan menjadi film drama paling emosional tahun ini, sekaligus pengingat bahwa di balik makanan sederhana, sering kali tersembunyi kisah perjuangan dan kasih yang luar biasa.

