Berita Utama

Cuaca Kian Terik, Ini Penjelasan Ilmiah dari Pakar IPB

×

Cuaca Kian Terik, Ini Penjelasan Ilmiah dari Pakar IPB

Sebarkan artikel ini
berjemur
lustrasi berjemur untuk mendapatkan vitamin D (Kis/ist)

KITAINDONESIASATU.COM– Belakangan ini, hawa panas terasa kian menyengat di berbagai daerah Indonesia. Aktivitas siang hari menjadi kurang nyaman, bahkan sebagian masyarakat mengeluhkan suhu udara yang tak kunjung sejuk meski sudah memasuki musim penghujan di beberapa wilayah. Fenomena meningkatnya suhu udara ini pun memunculkan pertanyaan: apa sebenarnya penyebab udara terasa makin panas belakangan ini?

Menurut Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SS, MSi, kondisi tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh cuaca ekstrem, melainkan berkaitan erat dengan proses penyerapan (absorbsi) radiasi medan elektromagnetik oleh atmosfer yang memengaruhi perubahan suhu, khususnya di lapisan troposfer bagian bawah.

“Atmosfer berfungsi sebagai medium yang menerima radiasi dari dua sumber utama, yakni matahari dan bumi. Radiasi dari matahari disebut radiasi gelombang pendek, sementara radiasi dari bumi disebut radiasi gelombang panjang. Keduanya memiliki spektrum absorpsi berbeda,” jelasnya Sabtu 25 Oktober 2025.

Ia menerangkan bahwa radiasi matahari lebih banyak diserap di lapisan stratosfer hingga termosfer, terutama pada spektrum ultraviolet (UV), sementara radiasi gelombang panjang dari permukaan bumi lebih dominan diserap di lapisan troposfer pada spektrum inframerah (IR).

Lebih lanjut, Sonni menjelaskan bahwa besarnya energi radiasi yang diserap atmosfer bergantung pada kerapatan partikel pengabsorpsi dan intensitas radiasi yang diterima. “Semakin tinggi konsentrasi partikel pengabsorpsi, semakin besar energi yang terserap, sehingga suhu udara pun meningkat,” ujarnya.

Menurutnya, ada dua faktor utama yang memicu pemanasan udara di lapisan bawah atmosfer. Pertama, peningkatan konsentrasi gas-gas pengabsorpsi radiasi gelombang panjang seperti uap air, karbon dioksida (CO₂), serta partikel aerosol dari polutan dan debu — proses yang dikenal sebagai efek rumah kaca. Kedua, perubahan tutupan lahan akibat alih fungsi area hijau menjadi kawasan terbangun yang membuat permukaan bumi lebih cepat menyerap dan memancarkan panas.

“Hal ini membuat suhu permukaan meningkat dan memperkuat pemanasan udara di lapisan bawah,” tegasnya.

Selain itu, posisi astronomis bumi juga berpengaruh terhadap variasi radiasi yang diterima. Pada bulan Oktober, posisi matahari berada hampir tepat di atas Pulau Jawa dan Bali, sehingga wilayah ini menerima intensitas radiasi matahari yang lebih tinggi.

“Fenomena ini merupakan proses fisis yang wajar terjadi setiap tahun. Namun, peningkatan suhu akan terasa lebih ekstrem ketika dipengaruhi oleh perubahan penggunaan lahan dan meningkatnya polutan di atmosfer,” pungkasnya. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *