KITAINDONESIASATU.COM – Ibu Suri Kerajaan Thailand, mendiang Ratu Sirikit, dikenang sebagai sosok pemersatu bangsa di tengah berbagai krisis yang menimpa Thailand. Semasa hidupnya, Ratu Sirikit dikenal luas di kancah internasional berkat keanggunan dan karismanya yang memikat dunia, terutama pada era 1960-an.
Dikutip dari berbagai sumber, Ratu Sirikit kerap menjadi sorotan media global saat mendampingi suaminya, mendiang Raja Bhumibol Adulyadej, yang memerintah Thailand selama 70 tahun sejak 1946.
Saat menjalani kunjungan luar negeri, pesonanya kerap mencuri perhatian publik dunia. Ia disebut sebagai “Ratu tercantik di dunia” oleh berbagai media internasional dan kerap menghiasi sampul majalah bergengsi seperti TIME dan Paris Match.
Di masa mudanya, Sirikit dikenal sebagai ikon mode dunia. Ia sering dibandingkan dengan mantan Ibu Negara AS Jackie Kennedy karena penampilan elegannya. Bekerja sama dengan desainer Prancis ternama Pierre Balmain, Sirikit menciptakan busana berbahan sutra Thailand yang kini menjadi warisan budaya kebanggaan negaranya. Upayanya itu menjadikannya tokoh penting dalam pelestarian industri tenun sutra tradisional.
Lahir di Bangkok pada 12 Agustus 1932, Sirikit Kitiyakara merupakan putri seorang diplomat yang juga anggota keluarga kerajaan kecil. Ketika menempuh pendidikan di Paris, ia bertemu dengan Bhumibol yang kala itu masih muda dan tinggal di Swiss. Keduanya bertunangan pada 1949 dan menikah di Thailand setahun kemudian, tepat sebelum Bhumibol naik takhta. Dari pernikahan yang bertahan lebih dari enam dekade itu, mereka dikaruniai empat anak, termasuk Raja Maha Vajiralongkorn yang kini memimpin Thailand.
Ratu Sirikit dikenal dekat dengan rakyatnya. Bersama Raja Bhumibol, ia kerap mengunjungi daerah-daerah terpencil untuk mendengarkan langsung aspirasi warga. Kepedulian dan kerja amalnya membuatnya dijuluki “Ibu Bangsa”. Bahkan, hari ulang tahunnya pada 12 Agustus ditetapkan sebagai Hari Ibu Nasional di Thailand sejak 1976.
Ratu Sirikit wafat dalam usia 93 tahun pada Jumat (24/10) malam setelah menjalani perawatan medis sejak 2019 akibat “menderita beberapa penyakit” dan infeksi darah. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi rakyat Thailand.
Menurut akademisi dan mantan diplomat Thailand, Pavin Chachavalpongun, kepergian Ratu Sirikit menandai “berakhirnya sebuah era.” Ia menambahkan bahwa sang ratu memiliki “ikatan mendalam dengan rakyat” dan kepergiannya akan “membangkitkan duka cita nasional yang mendalam.” (*)
