Sosok

Kisah Tragis Bal’am bin Ba’ura: Ulama yang Menjual Kehormatan Ilmu

×

Kisah Tragis Bal’am bin Ba’ura: Ulama yang Menjual Kehormatan Ilmu

Sebarkan artikel ini
Doa Puasa 6 Hari Bulan Syawal
ilustrasi berdoa. (Ist)

KITAINDONESIASATU.COM – Kisah Bal’am bin Ba’ura, yang diabadikan secara tersirat dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 175-176, merupakan pelajaran abadi tentang bahaya godaan duniawi bagi seorang ulama.

Bal’am hidup di zaman Nabi Musa AS dan dikenal sebagai seorang alim dari Bani Israil yang dikaruniai ilmu yang tinggi, bahkan konon ia mengetahui Ismul A’dzam (Nama Agung Allah) sehingga doanya selalu mustajab.

Namun, ilmu dan kemuliaan ini tidak mampu membentengi dirinya dari keserakahan. Ketika Nabi Musa dan kaumnya (Bani Israil) hendak memasuki suatu negeri, para penguasa kafir di negeri tersebut merasa terancam.

Mereka mendatangi Bal’am dengan membawa hadiah dan harta melimpah, meminta agar Bal’am menggunakan keistimewaannya untuk mendoakan keburukan bagi Nabi Musa dan pasukannya.

Mulanya Bal’am menolak karena menyadari Nabi Musa berada di jalan yang benar. Namun, bujukan harta dan rayuan terus-menerus, bahkan dari istrinya, akhirnya meluluhkan imannya. Bal’am pun menuruti permintaan raja zalim tersebut.

Dalam perjalanan menuju bukit untuk berdoa, keledainya berulang kali mogok dan bahkan mampu berbicara atas izin Allah, memperingatkan Bal’am akan malaikat yang menghalangi jalannya. Bal’am mengabaikannya dan tetap melanjutkan niat buruknya.

Saat ia mulai berdoa untuk mengutuk Bani Israil, lidahnya kelu dan terbalik; yang keluar dari mulutnya justru doa kebaikan untuk Nabi Musa dan kutukan untuk kaum yang menyuapnya.

Setelah gagal, Bal’am berkata: “Telah hilang dariku dunia dan akhirat.” Allah mencabut kemuliaannya. Dalam ayat 176 Surat Al-A’raf, Allah mengibaratkan Bal’am seperti anjing yang menjulurkan lidah, suatu perumpamaan bagi orang yang telah diberi petunjuk (ilmu) namun memilih meninggalkannya demi hawa nafsu dan kesenangan dunia.

Kisah Bal’am menjadi peringatan keras bagi para ulama agar selalu menjaga keikhlasan dan integritas ilmu agar tidak tergelincir pada godaan harta dan kekuasaan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *