KITAINDONESIASATU.COM– Di balik meja makan orang Indonesia, nama ikan salem dan kembung kerap jadi pilihan utama baik digoreng garing di warung sederhana maupun disantap segar dari pedagang pasar. Namun, di balik kelezatan dagingnya, kedua ikan pelagis ini ternyata menyimpan perbedaan mencolok dari sisi morfologi, perilaku makan, hingga pola reproduksi.
Dosen Departemen Budidaya Perairan IPB University, Kurnia Anggraini Rahmi, SPi, MSc, mengungkapkan hasil kajian ilmiah terkait karakteristik biologis kedua ikan tersebut. Menurutnya, memahami aspek ini penting, tidak hanya bagi nelayan dan pelaku usaha perikanan, tetapi juga untuk mendukung pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.
Ikan Salem
Kurnia menjelaskan, ikan salem memiliki tubuh ramping berbentuk torpedo dengan warna punggung biru kehijauan dan perut keperakan. Punggungnya dihiasi garis-garis hitam melintang yang khas. Sirip punggungnya terbagi dua, sementara sirip ekor bercabang kuat sehingga mendukung kemampuan berenang cepat. Uniknya, salem tidak memiliki sisik pada bagian kepala dan sebagian besar tubuh, kecuali di area gurat sisi.
“Salem berkembang biak secara bertahap atau batch spawning dengan telur dan larva bersifat pelagis,” ujarnya, Selasa 16 September 2025.
Siklus reproduksi ikan salem dimulai sejak Maret dengan kematangan gonad jantan (late spermatogenesis), lalu mencapai puncak pada April hingga Juni saat proses spermiation, sebelum memasuki fase pasca-pemijahan pada Juli.
Untuk betina, vitelogenesis awal berlangsung pada Maret, berlanjut pada Mei, dan fase pasca-pemijahan juga terjadi pada Juli. Musim pemijahan diperkirakan berlangsung dari akhir Mei hingga pertengahan Juli, dengan puncak pada Juni.

