KITAINDONESIASATU.COM – Gelaran Banjarmasin Art Week (BAW) 2025 membuka ruang apresiasi bagi seniman sekaligus memunculkan harapan agar pemerintah kota lebih serius melestarikan kesenian lokal yang kian tergerus zaman.
Plt Kepala Disbudporapar Banjarmasin, Fitriah, mengingatkan bahwa banyak kesenian Banjar kini berada di ambang kepunahan. Festival seni seperti BAW dianggap penting sebagai wadah regenerasi budaya.
“Generasi muda bisa melihat, belajar, dan menyadari bahwa kebudayaan itu masih hidup. Tetapi ini tidak cukup kalau hanya sebatas festival tahunan. Harus ada program berkelanjutan,” tegasnya, Minggu (7/9/2025).
Kritikan juga muncul dari sejumlah budayawan yang hadir. Mereka menilai pemerintah kota kerap menjadikan festival sebagai seremonial, namun tindak lanjut untuk pembinaan seniman daerah masih minim. “Kalau tidak ada perhatian serius, kita hanya jadi penonton di tanah sendiri. Kesenian Banjar bisa punah,” ujar seorang budayawan.
Sementara itu, Wali Kota Banjarmasin, H. M. Yamin HR, menegaskan BAW bukan sekadar hiburan, melainkan gerakan bersama untuk menjaga identitas kota. Ia berharap festival ini dapat memperkuat ekosistem ekonomi kreatif dan membuka ruang dialog antar generasi. “Saya ingin BAW jadi media pembelajaran dan penghargaan atas kekayaan seni budaya Banua,” katanya saat pembukaan acara.
BAW 2025 yang berlangsung 5–15 September di Banjarmasin Culture Hub mengusung tema “Balarut” dengan rangkaian kegiatan pameran seni, pasar kreatif, pertunjukan tari, musik, hingga literasi budaya. Namun, masyarakat tetap berharap pemerintah tidak berhenti pada agenda festival, melainkan lebih aktif menyalurkan anggaran dan program untuk membina serta melestarikan kesenian lokal secara nyata.(Anang Fadhilah)



