Viral

Kontroversi Kehadiran Peter Berkowitz di UI, Akademisi Elite Pro-Zionis dan Jejak Digitalnya

×

Kontroversi Kehadiran Peter Berkowitz di UI, Akademisi Elite Pro-Zionis dan Jejak Digitalnya

Sebarkan artikel ini
Kontroversi Kehadiran Peter Berkowitz di UI, Akademisi Elite Pro-Zionis dan Jejak Digitalnya
Kontroversi Kehadiran Peter Berkowitz di UI, Akademisi Elite Pro-Zionis dan Jejak Digitalnya

KITAINDONESIASATU.COM – Nama Peter Berkowitz tiba-tiba ramai diperbincangkan setelah tampil sebagai pembicara dalam acara mahasiswa baru Pascasarjana Universitas Indonesia (UI), yang langsung memicu kritik luas. Sosok ini dikenal sebagai akademisi bergengsi dengan latar belakang pendidikan dan karier mentereng, namun juga identik dengan sikap pro-Zionis yang keras dalam membela Israel. Kehadirannya pun dianggap sebagai kesalahan besar dari pihak UI.

Berkowitz menempati posisi sebagai Tad and Dianne Taube Senior Fellow di Hoover Institution, Stanford University, sebuah think-tank berpengaruh di Amerika Serikat. Ia mengantongi gelar Ph.D. dan J.D. dari Yale University serta sempat mengajar di Harvard University antara 1990-1999. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Direktur Perencanaan Kebijakan di Departemen Luar Negeri AS pada era Presiden Donald Trump (2019–2021), masa ketika kebijakan luar negeri AS sangat berpihak pada Israel.

Sumber utama kontroversi yang membayangi Berkowitz muncul dari rekam jejak digital dan karya tulisnya, yang jelas-jelas menegaskan dukungannya pada Israel. Hal itu bukan hanya berupa opini, melainkan argumentasi hukum dan ideologis yang ia tuangkan secara konsisten. Dalam bukunya Israel and the Struggle over the International Laws of War, ia mengkritik laporan PBB (Laporan Goldstone) yang menuding Israel. Menurutnya, hukum perang internasional telah dipelintir sebagai alat politik untuk melemahkan Israel, sebuah strategi yang ia sebut “lawfare.”

Melalui tulisannya di Claremont Review of Books, Berkowitz juga menolak teori tentang “lobi Israel,” dengan menekankan bahwa hubungan AS–Israel didasari prinsip, sejarah, dan ideologi bersama. Ia bahkan menegaskan pandangannya lewat pernyataan kontroversial: Amerika Serikat memiliki kewajiban moral membela Israel sebagai “satu-satunya demokrasi penegak hak di Timur Tengah melawan kekuatan barbarisme.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *