KITAINDONESIASATU.COM – Meski sempat diragukan saat pertama kali diumumkan, adaptasi live-action One Piece dari Netflix justru berhasil mencetak kesuksesan besar. Dibandingkan dengan adaptasi anime lainnya, serial ini menjadi salah satu yang paling diterima positif oleh penggemar.
Namun, perjalanan menuju musim kedua tidak selalu mulus. Netflix sudah menghadapi sejumlah kontroversi, termasuk perdebatan hangat soal casting karakter Vivi yang sempat menuai reaksi keras dari komunitas fans.
Setelah pengungkapan karakter Vivi dan Chopper menimbulkan kegaduhan, banyak yang menilai Netflix mungkin belum menghadapi kontroversi paling seriusnya. Tantangan terbesar justru bisa datang dari upaya membawa salah satu karakter paling ikonik ke layar: Bon Clay alias Mr. 2 atau Bentham.
Bon Clay adalah sosok flamboyan yang awalnya tampil sebagai antagonis di Alabasta Arc sebelum berubah menjadi sekutu yang dicintai fans. Namun, penggambarannya yang dikenal sebagai “okama” dalam budaya Jepang bisa menjadi masalah besar jika disalahartikan.
Di mata penonton Barat, istilah okama kerap dianggap mengandung stereotip homofobik atau transfobik.
Sementara di Jepang, kata ini punya sejarah yang kompleks—dulunya penghinaan, tetapi kemudian direklamasi dengan makna yang lebih luas, merujuk pada individu yang menantang batas estetika gender tanpa harus identik dengan transgender, crossdresser, atau drag culture Barat.
Eiichiro Oda sendiri kemudian memperluas representasi “okama” melalui karakter seperti Emporio Ivankov dan Kerajaan Kamabakka, meski sebagian penggambaran itu juga menuai kritik karena dianggap terlalu karikatural.
Meski begitu, Bon Clay tetap jadi favorit penggemar dan bahkan dipandang layak menjadi anggota kru Topi Jerami.



