KITAINDONESIASATU.COM – Tradisi Rabu Wekasan yang jatuh pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, sering kali menjadi perbincangan di masyarakat. Banyak yang meyakini bahwa hari tersebut merupakan hari turunnya ribuan bencana, sehingga dianjurkan untuk melakukan amalan khusus seperti sholat tolak bala atau sedekah.
Namun, dalam perspektif ajaran Islam, keyakinan ini menimbulkan perdebatan. Sebagian ulama dan cendekiawan berpendapat bahwa tradisi Rabu Wekasan tidak memiliki dasar kuat dari Al-Qur’an maupun Hadis. Ajaran Nabi Muhammad SAW tidak pernah menyinggung adanya hari sial atau hari yang mendatangkan bencana.
Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds dalam kitabnya Kanzun Najah was Surur memang menganjurkan sholat tolak bala, namun anjuran tersebut lebih bersifat ijtihad ulama. Sebaliknya, mayoritas ulama modern, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI), menegaskan bahwa keyakinan Rabu Wekasan tidak sesuai dengan tuntutan Nabi.
Dalam Islam, setiap hari dan waktu adalah sama, tidak ada yang membawa sial. Musibah dan bencana merupakan takdir dari Allah SWT yang bisa terjadi kapan saja.
Karenanya, umat Islam dianjurkan untuk senantiasa berzikir, berdoa, dan memperbanyak amalan saleh setiap hari, bukan hanya pada hari-hari tertentu. Keyakinan akan adanya hari sial dapat mengarah pada syirik atau perbuatan menyekutukan Allah.



