KITAINDONESIASATU.COM – Nama Suleiman Ahmed Zaid Obeid, atau lebih dikenal sebagai Suleiman al-Obeid, kini bukan hanya sekadar nama di dunia sepak bola Palestina. Ia adalah simbol ketangguhan, harapan, dan dedikasi dalam olahraga yang seringkali menjadi pelipur lara di tengah kondisi sulit.
Dikenal sebagai “Pelé Palestina” berkat kemampuannya mencetak gol dan menginspirasi banyak orang, perjalanan hidupnya penuh prestasi namun diakhiri dengan tragedi yang mengguncang dunia.
Profil Suleiman al-Obeid
Suleiman al-Obeid lahir pada 24 Maret 1984 di Kota Gaza, Gaza Strip. Dari kecil, ia sudah jatuh cinta pada sepak bola. Lapangan berdebu di Gaza menjadi saksi awal kemampuannya mengolah si kulit bundar. Meski berada di daerah yang penuh keterbatasan, bakatnya tak pernah padam. Dengan dedikasi tinggi, ia menembus level profesional di liga Palestina.
Karier klubnya dimulai di Khadamat Al-Shatea (2007–2009). Ia kemudian membela Markaz Shabab Al-Am’ari (2009–2013) sebelum kembali ke Al-Shatea. Suleiman juga sempat memperkuat Gaza Sport (2014–2016) dan kembali lagi ke Al-Shatea hingga 2023. Di klub-klub ini, ia menjadi andalan di lini depan, baik sebagai penyerang utama maupun sayap kanan.
Selama kariernya, Suleiman mencetak lebih dari 100 gol di kompetisi domestik. Salah satu musim terbaiknya terjadi di Premier League Gaza 2016–17, saat ia berhasil menjadi top scorer. Gaya bermainnya yang cepat, lincah, dan tajam di depan gawang membuatnya mendapat julukan “Pelé Palestina”.
Bagi banyak penggemar, ia bukan hanya pemain, tetapi juga inspirasi. Dalam setiap pertandingan, Suleiman selalu menunjukkan profesionalisme dan rasa cinta pada sepak bola, meski harus bermain di bawah tekanan situasi politik dan keamanan yang sulit.
Suleiman al-Obeid memulai debut bersama Tim Nasional Palestina pada 2007 dan bermain hingga 2013. Selama periode itu, ia mengoleksi 24 caps dan 2 gol internasional. Salah satu momen ikoniknya adalah gol tendangan gunting spektakuler melawan Yaman di Kejuaraan WAFF 2010, yang menjadi sorotan media olahraga Asia.
Di level internasional, Suleiman menunjukkan bahwa talenta Palestina mampu bersaing. Ia menjadi representasi negaranya di panggung sepak bola dunia, meski harus berlatih dan bertanding dalam kondisi yang tidak mudah.
Julukan ini bukan sekadar hiperbola. Seperti halnya legenda Brasil, Suleiman memiliki naluri mencetak gol yang tajam, kemampuan dribel yang menawan, dan visi permainan yang brilian. Di Gaza, anak-anak mengenalnya sebagai simbol mimpi yang mungkin tercapai. Banyak generasi muda yang mulai bermain bola karena terinspirasi oleh kariernya.
Bagi komunitas sepak bola Palestina, Suleiman bukan hanya seorang atlet, tetapi juga figur yang membawa kebanggaan nasional. Julukannya semakin melekat setelah beberapa penampilannya di turnamen internasional yang memukau.
Pada 6 Agustus 2025, kabar duka datang dari Gaza. Suleiman al-Obeid meninggal dunia setelah ditembak oleh pasukan Israel saat sedang menunggu bantuan kemanusiaan. Ia meninggal pada usia 41 tahun, meninggalkan seorang istri dan lima anak.
Kematian Suleiman bukan hanya kehilangan bagi keluarga dan penggemar sepak bola, tetapi juga duka mendalam bagi dunia olahraga Palestina. Menurut data, ia termasuk satu dari 662 orang di komunitas olahraga Gaza yang tewas sejak Oktober 2023, di mana 321 di antaranya adalah pemain sepak bola. Ia juga menjadi pemain nasional Palestina ketiga yang gugur selama konflik, setelah Mouyin al-Maghribi dan Mohammed Barakat.
Kematian Suleiman memicu gelombang duka dan kecaman internasional. Media-media seperti The Guardian, ESPN, dan India Times menyoroti tragedi ini, menampilkan bagaimana seorang legenda olahraga gugur bukan di lapangan, tetapi saat berusaha bertahan hidup di tengah krisis kemanusiaan.
Banyak rekan satu tim, pelatih, dan fans menyampaikan belasungkawa di media sosial. Mereka mengenangnya sebagai sosok yang rendah hati, pekerja keras, dan selalu berusaha memberi semangat kepada orang lain.
Warisan Suleiman tidak hanya dalam bentuk gol dan trofi, tetapi juga semangat pantang menyerah. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa sepak bola bisa menjadi bahasa universal yang menyatukan, bahkan di tengah perbedaan dan konflik.
Suleiman al-Obeid Inspirasi untuk Generasi Muda Palestina
Bagi anak-anak Gaza, cerita tentang Suleiman adalah bukti bahwa mimpi bisa tumbuh di tanah yang penuh keterbatasan. Ia membuktikan bahwa olahraga tidak hanya soal kemenangan, tetapi juga tentang harapan, keteguhan hati, dan dedikasi.
Banyak akademi sepak bola lokal mulai menggunakan namanya sebagai simbol semangat juang. “Jika Suleiman bisa, kami juga bisa,” begitu kira-kira semangat yang kini menyala di hati generasi muda Palestina.
Suleiman al-Obeid adalah lebih dari sekadar legenda sepak bola Palestina. Ia adalah ikon keteguhan, simbol harapan, dan teladan inspiratif. Dari lapangan kecil di Gaza hingga turnamen internasional, dari julukan “Pelé Palestina” hingga kepergiannya yang tragis, kisah Suleiman akan selalu dikenang.
Namanya akan terus hidup dalam cerita-cerita yang diceritakan oleh para penggemar, rekan setim, dan anak-anak yang bermimpi menjadi pemain sepak bola hebat. Dunia boleh saja kehilangannya, tetapi semangatnya akan terus menginspirasi.




