Lifestyle

Jangan Sepelekan Shalat Sunnah Rawatib, Bisa Jadi Penentu Selamat atau Celaka di Akhirat

×

Jangan Sepelekan Shalat Sunnah Rawatib, Bisa Jadi Penentu Selamat atau Celaka di Akhirat

Sebarkan artikel ini
shalat
Ilustrasi.

KITAINDONESIASATU.COM – Shalat fardhu itu wajib, tapi tahukah kamu kalau bisa jadi belum sempurna di sisi Allah? Iya, meski sudah shalat lima waktu, bisa saja banyak kekurangan dalam bacaan, gerakan, bahkan keikhlasan kita. Tapi tenang, Allah Maha Tahu lemahnya manusia, dan karena kasih sayang-Nya, Dia siapkan “penambal surgawi” untuk menutup celah kekurangan dalam ibadah wajib itu. Namanya adalah shalat sunnah rawatib.

Padahal, setiap Muslim tahu bahwa amal shalat fardhu adalah amal hamba yang pertama kali dihisab, sebagaimana yang dikemukakan dalam hadits riwayat Abu Hurairah berikut ini, seperti dikutip dari NU Online:

Dalam riwayat tersebut, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam bersabda:

  ุฅูู†ูŽู‘ ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ูŽ ู…ูŽุง ูŠูุญูŽุงุณูŽุจู ุจูู‡ู ุงู„ู’ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉูุŒ ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉู ุงู„ู’ู…ูŽูƒู’ุชููˆุจูŽุฉูุŒ ููŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุชูŽู…ูŽู‘ู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุฅูู„ูŽู‘ุง ู‚ููŠู„ูŽ: ุงู†ู’ุธูุฑููˆุง ู‡ูŽู„ู’ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุชูŽุทูŽูˆูู‘ุนูุŸ ููŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุชูŽุทูŽูˆูู‘ุนูŒ ุฃููƒู’ู…ูู„ูŽุชู ุงู„ู’ููŽุฑููŠุถูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุชูŽุทูŽูˆูู‘ุนูู‡ูุŒ ุซูู…ูŽู‘ ูŠููู’ุนูŽู„ู ุจูุณูŽุงุฆูุฑู ุงู„ู’ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ู ุงู„ู’ู…ูŽูู’ุฑููˆุถูŽุฉู ู…ูุซู’ู„ู ุฐูŽู„ููƒูŽ  

Artinya, โ€œSesungguhnya amal hamba yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat adalah shalat fardhu. Itu pun jika sang hamba menyempurnakannya. Jika tidak, maka disampaikan, โ€œLihatlah oleh kalian, apakah hamba itu memiliki amalan (shalat) sunnah?โ€ Jika memiliki amalan shalat sunnah, sempurnakan amalan shalat fardhu dengan amal shalat sunnahnya. Kemudian, perlakukanlah amal-amal fardhu lainnya seperti tadi,โ€ (HR. Ibnu Majah).  

Dilihat dari redaksinya, hadits ini mencakup semua jenis shalat sunnah, termasuk shalat sunnah rawatib atau shalat sunnah yang mengiringi shalat fardhu. Dengan demikian betapa pentingnya amalan shalat sunnah. Begitu pula shalat sunnah rawatib. Sampai-sampai Imam Ar-Rafiโ€˜i, pengikut madzhab Syafiโ€˜i berfatwa, orang yang biasa meninggalkan shalat sunnah rawatib layak ditolak kesaksiannya, karena dianggap menyepelekan sunnah.

  ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฐูŽูƒูŽุฑูŽ ุงู„ุฑูŽู‘ุงููุนููŠูู‘ ูููŠ ุงู„ู’ูƒูŽู„ูŽุงู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุฑููˆุกูŽุฉู ุฃูŽู†ูŽู‘ ู…ูŽู†ู’ ุงุนู’ุชูŽุงุฏูŽ ุชูŽุฑู’ูƒูŽ ุงู„ุณูู‘ู†ูŽู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ูˆูŽุงุชูุจู ูˆูŽุชูŽุณู’ุจููŠุญูŽุงุชู ุงู„ุฑูู‘ูƒููˆุนู ูˆูŽุงู„ุณูู‘ุฌููˆุฏู ุฑูุฏูŽู‘ุชู’ ุดูŽู‡ูŽุงุฏูŽุชูู‡ูุ› ู„ูุชูŽู‡ูŽุงูˆูู†ูู‡ู ุจูุงู„ุณูู‘ู†ูŽู†ูุŒ ููŽู‡ูŽุฐูŽุง ุตูŽุฑููŠุญูŒ ูููŠ ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ู…ููˆูŽุงุธูŽุจูŽุฉูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงุฑู’ุชููƒูŽุงุจู ุฎูู„ูŽุงูู ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ู†ููˆู†ู ุชูุฑูŽุฏูู‘ ุงู„ุดูŽู‘ู‡ูŽุงุฏูŽุฉู ุจูู‡ู ู…ูŽุนูŽ ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽุง ุฅุซู’ู…ูŽ ูููŠู‡ู.  

 Imam Ar-Rafiโ€˜i menyebutkan dalam pembahasan tentang muruah bahwa orang yang biasa meninggalkan shalat-shalat sunnah rawatib, tasbih rukuk, dan sujud, layak ditolak kesaksiannya karena dianggap menyepelekan sunah. Ini jelas bahwa melanggengkan diri melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perkara sunah menyebabkan ditolaknya kesaksian walaupun tidak ada dosa di dalamnya. (Lihat: Ibnu Hajar al-Haitami, Al-Jawazir โ€˜an Iqtirafil-Kabaโ€™ir).

 Jumlah rakaat shalat sunnah rawatib memang beragam, mengingat banyaknya riwayat tentangnya. Menukil riwayat Al-Bukhari dan Muslim, ulama Syafiโ€˜i membaginya menjadi dua golongan: ada yang muakkad, ada yang ghair muโ€™akkad. Yang muakkad berjumlah sepuluh rakaat. Sisanya adalah ghair muakkad.

 Sepuluh rakaat yang muakkad adalah:   (ูˆูŽุฑูŽูˆูŽุงุชูุจู ุงู„ู’ููŽุฑูŽุงุฆูุถู) ุงู„ู’ู…ูุคูŽูƒูŽู‘ุฏูŽุฉู (ุนูŽุดู’ุฑูŒ)ุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุญููƒู’ู…ูŽุฉู ูููŠู‡ูŽุง ุชูŽูƒู’ู…ููŠู„ู ู…ูŽุง ู†ูŽู‚ูŽุตูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ููŽุฑูŽุงุฆูุถู ููŽุถู’ู„ู‹ุง ู…ูู†ู’ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ ูˆูŽู†ูุนู’ู…ูŽุฉู‹ุŒ ูˆูŽู‡ููŠูŽ (ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽุงู†ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ุตูู‘ุจู’ุญู ูˆูŽ) ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽุงู†ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ (ุงู„ุธูู‘ู‡ู’ุฑู ูˆูŽุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽุงู†ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ุธูู‘ู‡ู’ุฑู ูˆูŽ) ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽุงู†ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ (ุงู„ู’ู…ูŽุบู’ุฑูุจู ูˆูŽ) ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽุงู†ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ (ุงู„ู’ุนูุดูŽุงุกู) ู„ูู„ูุงุชูู‘ุจูŽุงุนู ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุฎูŽุงู†ู  

Artinya, โ€œShalat sunnah rawatib pengikut fardhu yang ditekankan adalah sepuluh rakaat. Hikmahnya adalah menyempurnakan kekurangan shalat fardhu sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Sepuluh rakaat tersebut adalah dua rakaat sebelum subuh, dua rakaat sebelum dhuhur, dua rakaat setelah dhuhur, dua rakaat setelah magrib, dan dua rakaat setelah isya, karena ikut kepada riwayat Al-Bukhari dan Muslim.โ€ (Lihat: Asnal Mathalib fi Syarh Raudlatith-Thalib, jilid 1, hal. 202).  

 Sedangkan sisanya adalah ghair muakkad, seperti tambahan dua rakaat sebelum dan setelah dhuhur, empat rakaat sebelum ashar, dua rakaat sebelum magrib, dua rakaat sebelum isya.   Di samping sebagai penyempurna shalat fardhu, shalat sunnah rawatib juga memiliki keutamaan umum untuk mengantarkan seorang hamba kepada ridla Allah dan kenikmatan surga, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat An-Nasaโ€™i dari Ummu Habibah berikut ini, meski terdapat sedikit perbedaan jumlah rakaat:

  ุซูู†ู’ุชูŽุง ุนูŽุดู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุฉู‹ ู…ูŽู†ู’ ุตูŽู„ูŽู‘ุงู‡ูู†ูŽู‘ุŒ ุจูู†ููŠูŽ ู„ูŽู‡ู ุจูŽูŠู’ุชูŒ ูููŠ ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูุŒ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู ุฑูŽูƒูŽุนูŽุงุชู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ุธูู‘ู‡ู’ุฑูุŒ ูˆูŽุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽุงู†ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ุธูู‘ู‡ู’ุฑูุŒ ูˆูŽุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽุงู†ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุตู’ุฑูุŒ ูˆูŽุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽุงู†ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุบู’ุฑูุจูุŒ ูˆูŽุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽุงู†ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ุตูู‘ุจู’ุญู  

Artinya, โ€œDua belas rakaat yang ditunaikan seseorang maka sebuah rumah di surga akan dibangunkan untuknya, yakni empat rakaat sebelum dhuhur, dua rakaat setelah dhuhur, dua rakaat sebelum ashar, dua rakaat setelah magrib, dan dua rakaat sebelum subuh.โ€  

Sementara keutamaan khusus yang dimiliki shalat sunnah rawatib adalah empat rakaat sebelum dan setelah dhuhur, berdasarkan riwayat berikut:   ู…ูŽู†ู’ ุญูŽุงููŽุธูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู ุฑูŽูƒูŽุนูŽุงุชู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ุธูู‘ู‡ู’ุฑู ูˆูŽุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ูŽุง ุญูŽุฑูŽู‘ู…ูŽู‡ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู  

Artinya: โ€œSiapa saja yang menjaga empat rakaat sebelum dhuhur dan dua rakaat setelahnya, maka Allah mengharamkannya atas siksa neraka,โ€ (HR. At-Tirmidzi).  

Jadi, sangat sayang menyia-nyiakan shalat sunnah rawatib karena besar keutamaannya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *