KITAINDONESIASATU.COM – Setelah bentrokan sengit di Suwayda, selatan Suriah, yang menelan ratusan korban jiwa, Presiden sementara Suriah Ahmed al-Sharaa dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya menyetujui gencatan senjata.
BACA JUGA: https://www.kitaindonesiasatu.com/news/as-dituding-bantu-israel-gempur-suriah-langsung-bantah-keras/
Gencatan ini diumumkan langsung oleh Utusan Khusus AS untuk Suriah, Tom Barrack, yang juga menjabat sebagai Dubes AS untuk Turki. Negosiasi rumit itu dimediasi oleh AS dan didukung sejumlah negara termasuk Turki dan Yordania.
Namun, di balik kesepakatan tersebut, muncul kritik keras. Dewan Fatwa Tertinggi Suriah menegaskan bahwa meminta bantuan dari Israel dan memprovokasi konflik sektarian adalah haram secara syariat. Mereka juga menyerukan pemerintah agar melindungi semua warga tanpa diskriminasi, dan membela yang tertindas sesuai hukum Islam.
Angka korban jiwa pun masih simpang siur. Syrian Observatory for Human Rights melaporkan korban tewas mencapai 718 jiwa, sementara data resmi Kementerian Kesehatan Suriah menyebut 260 orang tewas dan lebih dari 1.600 luka-luka.
Tak hanya itu, serangan udara Israel pada Rabu, 16 Juli 2025, ke Damaskus dan wilayah Suwayda makin memanaskan suasana. Target serangan mencakup kantor Kementerian Pertahanan dan pasukan pemerintah Suriah. (Sumber: IRNA)
