KITAINDONESIASATU.COM – Islam mengajarkan kita untuk senantiasa menyebut nama Allah dalam setiap keadaan. Zikir bukan sekadar lantunan lisan, tapi juga amalan hati yang penuh makna. Dalam kehidupan sehari-hari, ada begitu banyak kalimat zikir yang bisa kita amalkan secara rutin agar hati tetap terhubung dengan Sang Pencipta.
Zikir merupakan bentuk cinta dan penghambaan kita kepada Allah. Dengan berzikir, iman kita senantiasa terjaga, dan hati pun terlindungi dari kelalaian dunia. Namun, tak semua zikir memiliki kedalaman yang sama.
Sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Athaillah dalam kitab hikmahnya, ada yang berzikir dengan lisan namun hatinya lalai, dan ada pula yang menyebut nama Allah dengan kesadaran penuh, hati yang hadir dan waspada.
Zikir bukan sekadar rutinitas, tetapi jalan menuju ketenangan jiwa dan kedekatan dengan Allah. Mari kita jaga zikir bukan hanya di lisan, tetapi juga dalam lubuk hati yang paling dalam.
Zikir dengan hati waspada sebagai disinggung Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini, dilansir dari NU Online:
لا تترك الذكر لعدم حضور قلبك مع الله فيه لأن غفلتك عن وجود ذكره أشد من غفلتك في وجود ذكره فعسى أن يرفعك من ذكر مع وجود غفلة إلى ذكر مع وجود يقظة ومن ذكر مع وجود يقظة إلى ذكر مع وجود حضور ومن ذكر مع وجود حضور إلى ذكر مع غيبة عما سوى المذكور (وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ)ـ
Artinya: Jangan tinggalkan zikir karena kelalaian hatimu yang tidak bersama Allah karena kelalaian tanpa dzikir lebih buruk daripada kelalaian dengan zikir. Bisa jadi Allah mengangkatmu dari zikir dengan kelalaian ke zikir dengan hati terjaga, dari dzikir dengan hati terjaga ke zikir dengan hati waspada, dari zikir dengan hati waspada ke dzikir fana. Allah berfirman, “Dan yang demikian itu bagi Allah tidak sulit” (Surat Ibrahim ayat 20).
Ibnu Athaillah menganjurkan kita berzikir dengan hati lalai sekalipun. Ini menunjukkan betapa pentingnya zikir. Mengapa demikian? Zikir merupakan jalan utama mereka yang menempuh perjalanan Ilahi. Allah SWT sendiri memerintahkan kita untuk menyebut nama-Nya secara mutlak terus-menerus sebagaimana disinggung Ibnu Ajibah berikut ini.
قلت الذكر ركن قوي في طريق القوم وهو أفضل الأعمال قال الله تعالى اذكروني أذكركم وقال تعالى “يا أيها الذين آمنوا اذكروا الله ذكراً كثيراً” والذكر الكثير أن لا ينساه أبداً قال ابن عباس رضي الله عنهما كل عبادة فرضها الله تعالى جعل لها وقتاً مخصوصاً وعذر العباد في غير أوقاتها إلا الذكر لم يجعل الله له وقتاً مخصوصاً قال تعالى “اذكروا الله ذكراً كثيراً” وقال تعالى “فإذا قضيتم الصلاة فاذكروا الله قياماً وقعوداً وعلى جنوبكم” وقال رجل يا رسول الله كثرت على شعائر الأسلام فأوصني بأمر أدرك به ما فاتني وأوجز فقال لا يزال لسانك رطباً بذكر الله وقال عليه السلام لو أن رجلاً في حجره دراهم يقسمها وآخر يذكر الله لكان الذاكر لله أفضل
Artinya: “Menurutku, dzikir adalah pilar utama dari jalan yang ditempuh para sufi. Ia adalah amalan paling utama. Allah berfirman, “Sebutlah nama-Ku, Aku akan menyebut namamu” dan “Wahai orang-orang yang beriman, sebutlah nama Allah dengan sebutan yang banyak.” Maksud dari “sebutan yang banyak” adalah tidak melupakan Allah di hati selamanya. Ibnu Abbas berkata: Allah menentukan waktu-waktu khusus untuk semua ibadah dan memaafkan hamba-Nya yang menunaikan ibadah itu di luar waktunya kecuali ibadah zikir karena Allah tidak menentukan waktu khusus untuk ibadah ini. Allah berfirman, “Sebutlah nama Allah dengan sebutan yang banyak” dan “Bila kamu sekalian telah menunaikan sembahyang, maka sebutlah nama Allah saat kalian duduk, berdiri, dan berbaring”. Seorang sahabat Rasul bertanya: Ya rasul, syiar Islam kelewat banyak. Sebutlah satu amalan ringkas untukku di mana aku dapat menyusul ketertinggalan di masa lalu?’ “Jagalah lisanmu agar selalu basah menyebut nama Allah,” jawab Rasul senyum. Rasulullah SAW bersabda, “Kalau ada seseorang memiliki banyak dirham di pangkuannya lalu ia membagikannya sampai habis, lalu seorang lagi hanya berzikir menyebut nama Allah, niscaya orang kedua lebih utama di sisi-Nya” (Ibnu Ajibah, Syarhul Hikam).
Sebagian ulama bahkan menyebut dzikir sebagai kunci pembuka penyatuan seorang hamba dan Allah. Melalui zikir, seorang hamba dapat memasuki majelis mulia bersama Allah SWT. Hal ini disebutkan oleh Syekh Burhanuddin As-Syadzili Al-Hanafi. Menurutnya, tidak ada ketentuan terhadap lafal zikir. Artinya, dzikir dengan lafal yang mana saja dapat membuka pintu langit. Semoga kita senantiasa istikamah untuk berzikir demi meraih rida Allah SWT. Aamiin. (*)





