Sosok

Profil Lengkap Setya Novanto

×

Profil Lengkap Setya Novanto

Sebarkan artikel ini
Setya Novanto
Setya Novanto kini bebas bersyarat.

KITAINDONESIASATU.COM – Setya Novanto adalah salah satu tokoh politik Indonesia yang namanya mencuat karena karier politiknya yang gemilang sekaligus kejatuhan dramatis akibat kasus korupsi.

Siapa Itu Setya Novanto?

Setya Novanto lahir di Bandung pada 12 November 1955. Ia dikenal sebagai politisi Partai Golkar dan pernah menduduki posisi Ketua DPR RI selama dua periode, yaitu 2014–2015 dan 2016–2017. Tidak hanya itu, Setnov – panggilan akrabnya – juga sempat menjabat Ketua Umum Partai Golkar pada periode 2016–2017.

Setnov menempuh pendidikan di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya dan kemudian melanjutkan di Universitas Trisakti Jakarta, mengambil jurusan akuntansi. Namun, kehidupannya tidak langsung nyaman. Ia memulai karier bisnisnya dengan berjualan madu dan beras.

Bahkan, diceritakan ia pernah mengelola dua truk beras untuk dijual. Sebelum masuk dunia politik, Setnov juga sempat bekerja sebagai sales mobil Suzuki. Tekad kuat dan kerja kerasnya dalam bisnis inilah yang akhirnya membuka banyak jaringan hingga ia terjun ke politik.

Karier Politik Setya Novanto

Setnov terpilih sebagai anggota DPR RI sejak tahun 1999 mewakili Nusa Tenggara Timur. Karier politiknya melesat cepat. Berkat kepiawaiannya bernegosiasi dan membangun jaringan, ia dipercaya menjabat Ketua DPR pada tahun 2014. Namun, pada Desember 2015, ia mengundurkan diri akibat kasus pencatutan nama Presiden Joko Widodo dalam perpanjangan kontrak Freeport yang viral di media saat itu.

Setelah badai politik tersebut, Setnov kembali bangkit dan terpilih lagi menjadi Ketua DPR pada akhir 2016 melalui dukungan kuat Partai Golkar. Namun, masa jabatannya tidak berlangsung lama karena pada 2017, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkannya sebagai tersangka korupsi e-KTP.

Kasus Korupsi e-KTP yang Mengguncang Indonesia

Pada Juli 2017, KPK menetapkan Setnov sebagai tersangka kasus mega korupsi proyek e-KTP 2011–2012 yang merugikan negara hingga Rp2,3 triliun. Kasus ini melibatkan banyak pihak mulai dari pejabat negara, birokrat, hingga swasta.

Setnov disebut menerima aliran dana sekitar USD 7,3 juta dari proyek tersebut. Namun, ia sempat melakukan berbagai manuver hukum untuk menghindari jeratan KPK, termasuk gugatan praperadilan yang sempat dimenangkan olehnya pada September 2017.

Pada November 2017, KPK menangkap Setnov setelah ia mengalami kecelakaan mobil di kawasan Permata Hijau, Jakarta, saat akan dijemput paksa oleh penyidik. Peristiwa ini ramai diberitakan media nasional dan internasional karena menambah drama dalam proses penegakan hukum kasus e-KTP.

Akhirnya pada April 2018, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menjatuhkan vonis 15 tahun penjara kepada Setnov. Ia juga diwajibkan membayar denda Rp500 juta dan uang pengganti USD 7,3 juta. Jika tidak dibayar, hukumannya ditambah 2 tahun penjara.

Kehidupan Setya Novanto di Penjara

Setelah ditahan di Lapas Sukamiskin, Bandung, Setnov menjalani masa hukuman dengan mengikuti berbagai program pembinaan, termasuk bertani. Dalam beberapa kesempatan, ia terlihat mengenakan topi caping dan berjanggut tebal, menunjukkan penampilan yang jauh berbeda dari saat menjabat.

Meski demikian, pada 2023 ia mendapat remisi atau pengurangan masa hukuman, seperti puluhan narapidana korupsi lainnya. Remisi ini sempat menuai kritik publik karena dianggap tidak memberikan efek jera bagi koruptor kelas kakap.

Selain kasus e-KTP, nama Setnov juga kerap muncul dalam berbagai isu dan polemik lain, termasuk Panama Papers dan kasus pencatutan nama Presiden dalam perpanjangan kontrak Freeport. Namun, tidak semua kasus berujung pada proses hukum. Inilah yang menjadikan figur Setnov menarik, penuh dinamika, dan sarat pembelajaran bagi generasi politik selanjutnya.

Setya Novanto adalah contoh politisi dengan perjalanan hidup yang dramatis, mulai dari pengusaha kecil, sales mobil, hingga menjadi Ketua DPR RI dan Ketua Umum Partai Golkar. Namun, kasus korupsi e-KTP menjerumuskannya ke penjara dan mencoreng semua prestasi politiknya.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa integritas dan kejujuran adalah hal yang paling mahal dalam hidup, terutama bagi mereka yang mengemban amanah rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *